Petani Makin Sedikit: BPS 2023 Ungkap Hilangnya 1,2 Juta Petani/Tahun
Data BPS 2023 mengungkap krisis regenerasi petani Indonesia. Kenali penyebabnya dan kebijakan Kementan yang bisa jadi solusi nyata.
Petani Makin Sedikit: BPS 2023 Ungkap Hilangnya 1,2 Juta Petani per Tahun
Setiap tahun, lebih dari satu juta orang meninggalkan dunia pertanian Indonesia. Bukan sekadar angka โ ini alarm besar bagi ketahanan pangan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Sensus Pertanian 2023 mencatat penurunan jumlah petani sebesar 1,2 juta orang per tahun selama satu dekade terakhir. Usia rata-rata petani Indonesia pun kini menyentuh 55 tahun, sementara anak-anak muda semakin enggan terjun ke sawah.
Apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang sudah dilakukan Kementan?
Mengapa Generasi Muda Meninggalkan Pertanian?
BPS mencatat beberapa faktor utama:
- Pendapatan tidak menentu. Harga gabah sering jatuh saat panen raya, membuat petani rugi setelah kerja keras berbulan-bulan.
- Akses lahan makin sempit. Alih fungsi lahan pertanian ke perumahan dan industri terus berlangsung โ rata-rata 96.000 hektar sawah hilang per tahun.
- Tidak ada jaminan sosial. Petani tidak punya BPJS Ketenagakerjaan otomatis, tidak ada pensiun, tidak ada jaring pengaman saat gagal panen.
- Citra profesi rendah. Di mata anak muda, bertani identik dengan kotor, berat, dan tidak menjanjikan.
Respons Kebijakan Kementan: Apa yang Sudah Ada?
Menghadapi krisis ini, Kementerian Pertanian di bawah Mentan Andi Amran Sulaiman meluncurkan sejumlah kebijakan yang langsung menyasar regenerasi petani:
1. Program Petani Milenial (Permentan No. 04 Tahun 2023)
Program ini menargetkan 1 juta petani muda usia 19โ39 tahun hingga 2024. Peserta mendapat akses:Cara memanfaatkan: Daftarkan diri melalui Dinas Pertanian kabupaten/kota setempat atau melalui aplikasi SIMLUHTAN (Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian).
2. Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) โ Permentan No. 40 Tahun 2015 (diperpanjang 2023)
Petani bisa mendapatkan perlindungan gagal panen akibat banjir, kekeringan, atau serangan OPT dengan premi hanya Rp36.000/hektar/musim (disubsidi pemerintah dari harga asli Rp180.000). Klaim bisa mencapai Rp6 juta/hektar.Cara daftar: Hubungi PPL atau Babinsa di desa, atau langsung ke kantor Jasindo terdekat.
3. Kartu Tani dan Subsidi Pupuk Tepat Sasaran
Melalui integrasi Kartu Tani dengan sistem e-RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok), subsidi pupuk kini diarahkan langsung ke petani terdaftar. Pastikan nama Anda dan luas lahan sudah tercatat di Kelompok Tani dan tervalidasi PPL.Apa Artinya Ini untuk Petani dan Kelompok Tani?
Kebijakan ada, tapi manfaatnya hanya terasa jika petani aktif mengakses program tersebut. Banyak program gagal bukan karena programnya buruk, tapi karena informasi tidak sampai ke lapangan.
Jika anak atau keponakan Anda tertarik bertani, dorong mereka mendaftar Program Petani Milenial sekarang. Jika Anda sudah bertani, pastikan lahan Anda terlindungi AUTP sebelum musim tanam berikutnya.
Poin Penting: